Statistik Tim Basket Putra Pra PON 2019 Sebagai Bahan Evaluasi Peningkatan Standar Basket Indonesia

Pada saat mengerjakan artikel statistik Pra PON ini, saya menerima banyak pertanyaan menarik dari kawan – kawan, yang salah satunya adalah, “Kanggo opo ribet – ribet bikin data statistik. Lha wong sing menentukan kemenangan iki skor akhir, ora turnover, rebound, dan lainnya.”

Pendapat tersebut tidaklah keliru, bahwa menang dan kalahnya suatu tim tergantung dari jumlah skor akhir. Namun, perlu dipahami bahwa tujuan dari analisa statistik pertandingan adalah untuk mengetahui faktor – faktor penting, dari sekian banyak hal yang terjadi pada suatu pertandingan, yang mempengaruhi skor akhir. Secara singkat, tujuannya adalah untuk mengetahui mengapa (Why?) bisa sampai terjadi skor akhir tersebut, daripada sekedar melihat siapa yang skornya lebih besar.

Mengetahui faktor – faktor yang menentukan kemenangan atau kekalahan suatu tim secara spesifik, merupakan hal yang sangat penting untuk membantu proses evaluasi agar tepat sasaran dan menjadi masukan untuk perencanaan program persiapan akan datang. Sebaliknya apabila tidak memiliki informasi yang objektif dari hasil analisa statistik, maka hal yang umum terjadi adalah proses evaluasi secara subjektif berdasarkan penilaian siapa yang mengevaluasi, dan berakhir dengan program persiapan yang tidak spesifik.

Analisa Empat Faktor pada Peserta Tim Basket Putra Pra PON 2019

Analisa empat faktor pada peserta tim basket putra Pra Pon 2019 ini merupakan salah satu contoh baik mengenai pentingnya analisa statistik. Bila kita berasumsi bahwa menang dan kalah sekedar dilihat dari skor akhir, dengan mengesampingkan faktor – faktor lainnya, berarti secara sederhana dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berperan adalah efektivitas tembakan. Benarkah demikian?

Berdasarkan hasil analisa empat faktor, menunjukkan bahwa faktor TO% memiliki angka yang paling besar dalam hal distribusi kemenangan dari seluruh total pertandingan basket putra Pra PON 2019. Rata – rata TOV pada pada Pra PON 2019 adalah sebesar 22. Nusa Tenggara Timur adalah tim dengan angka rata – rata TOV paling tinggi (33.6), sedangkan DKI Jakarta adalah tim dengan angka TOV yang paling rendah (12).

Tabel distribusi persentase kemenangan berdasarkan empat faktor pada tim basket putra Pra PON 2019.

Lantas apakah artinya apabila TO% memiliki distribusi yang paling besar pada kesuksesan tim dalam suatu kompetisi atau turnamen? Dan apakah yang lebih perlu diprioritaskan pada persiapan akan datang berdasarkan kasus ini?

Apakah perlu lebih fokus pada peningkatan chemistry, pengalaman bermain atau jam terbang, dan mematangkanpola serangan tim pada proses persiapan akan datang? Ataukah hal – hal lainnya?

Apabila TO% menjadi faktor dengan distribusi kemenangan yang paling besar dalam suatu kompetisi atau turnamen, artinya adalah terdapat masalah kesenjangan yang bermakna dalam hal fundamental, ataupun masalah kesenjangan kemampuan fisik, di antara para tim peserta turnamen tersebut. Dengan demikian, pengembangan teknik dasar, fundamental, dan kemampuan fisik individu memiliki prioritas yang lebih besar pada proses persiapan akan datang, daripada chemistry, pengalaman bermain atau jam terbang, dan pola serangan. Ini adalah contoh sederhana mengenai penggunaan hasil analisa statistik untuk digunakan sebagai bahan evaluasi dan perencanaan.

Penguasaan, Efisiensi Serangan, dan Efisiensi Pertahanan

Grafik perbandingan Poss, Off Rtg, dan Def Rtg pada tim basket putra Pra PON 2019.

Rata – rata penguasaan pada seluruh pertandingan tim basket putra Pra PON 2019 adalah sebesar 84.5 penguasaan. DKI Jakarta merupakan tim yang memiliki rata-rata penguasaan paling rendah, namun memiliki efisiensi serangan yang paling tinggi, yaitu 1.08 angka dari 79.15 penguasaan. Tim dengan rata – rata penguasaan tertinggi adalah Bangka Belitung yang memiliki efisiensi serangan sebesar 0.81 angka dari 88.4 penguasaan. Sedangkan Kalimantan Tengah adalah tim dengan efisiensi serangan yang paling rendah, yaitu 0.37 angka dari 83.73 penguasaan.

Jawa Tengah adalah tim dengan efisiensi pertahanan paling rendah, dimana hanya kemasukkan 0.57 angka pada setiap penguasaan. Sedangkan Kalimantan Tengah adalah tim dengan efisiensi pertahanan paling tinggi, dimana kemasukkan 1.06 angka pada setiap penguasaan. Rendahnya standar rata – rata efisiensi pertahanan berhubungan dengan rendahnya rata – rata efisiensi serangan para peserta.

Terdapat enam tim yang tidak mencapai batas rata – rata dari masing – masing kategori efisiensi. Di antaranya, terdapat lima tim yang tidak mencapai batas rata – rata keduanya, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatra Selatan. Sementara Aceh hanya tidak mencapai batas rata – rata efisiensi serangan, dan Nusa Tenggara Barat hanya tidak mencapai batas rata – rata efisiensi pertahanan.

Floor%

Grafik perbandingan Floor% pada tim basket putra Pra PON 2019.

DKI Jakarta memiliki efektivitas penguasaan (Floor%) yang tertinggi di antara para peserta lainnya. Mereka memiliki rata – rata 40.44 penguasaan yang berhasil menghasilkan angka dari rata-rata total 79.15 penguasaan. Tingginya angka Floor% tersebut sesuai dengan tingginya jumlah tembakan masuk (FGM), yaitu 34 tembakan, yang di atas para peserta lainnya.

Terdapat dua tim dengan efisiensi serangan (Off Rtg) di atas rata – rata, namun memiliki efektivitas penguasaan (Floor%) yang di bawah rata – rata, yaitu Yogyakarta dan Kalimantan Barat. Pada kasus Yogyakarta, penyebabnya adalah angka FGM dan FTM yang di bawah rata – rata. Sedangkan pada kasus Kalimantan Barat, penyebabnya hanya FTM yang di bawah rata – rata.

Play%

Grafik perbandingan Play% pada tim basket putra Pra PON 2019.

DKI Jakarta menjadi tim dengan Play% terbesar, dimana mereka berhasil memanfaatkan sekitar 40.44 dari total 93.65 kesempatan untuk mencetak angka (Play). Menariknya, Bangka Belitung adalah tim dengan jumlah kesempatan mencetak angka (Play) yang terbesar, oleh karena tingginya jumlah Poss dan OReb. Walau demikian, mereka hanya berhasil memanfaatkan sekitar 31.74 dari total 105.26 kesempatan untuk mencetak angka.

Field%

Grafik perbandingan Field% pada tim basket putra Pra PON 2019.

Jika faktor pelanggaran dihilangkan, maka DKI Jakarta masih memiliki memiliki efektivitas yang tertinggi, yaitu sebesar 48.34%. Disamping DKI Jakarta, hanya Jawa Tengah yang memiliki Field% di atas 40%.

Rata – rata efisiensi dan efektivitas yang rendah, dan kesenjangan yang besar

Berdasarkan penyajian data di atas, terlihat bahwa betapa rendahnya standar rata – rata efisiensi dan efektivitas para peserta tim basket putra Pra Pon 2019. Hanya 41% tim peserta dengan Off Rtg di atas 80, hanya 17.6% tim peserta dengan Floor% di atas 0.4, hanya 11.8% tim peserta dengan Play% di atas 0.35, dan hanya 23.5% tim peserta dengan Field% di atas 0.35 . Selain itu, tampak terdapat kesenjangan yang amat besar antara tim yang di atas rata – rata dengan yang di bawah rata – rata. Dengan demikian, penyajian data ini diharapkan dapat membuka mata banyak pihak bahwa hal yang penting pada pertandingan basket bukanlah sekedar skor akhirnya, melainkan efisiensi dan efektivitasnya. Hal tersebut telah dibuktikan di berbagai kompetisi, termasuk NBA, bahwa terdapat hubungan yang erat antara efektivitas dan efisiensi dengan keberhasilan untuk menjadi juara, dibandingkan dari sekedar jumlah bola yang masuk.

Hal menariknya lainnya di kompetisi bola basket putra Pra Pon 2019 ini adalah faktor TO% pada persentase kemenangan yang ternyata lebih besar daripada eFG%. Selain itu, juga ditemukan persentase faktor FT Rate% pada persentase kemenangan yang ternyata lebih besar dari OR%. Fakta ini tidak akan terungkap dan permasalahannya tidak akan teridentifikasi apabila tidak dianalisa lebih lanjut. Mau sampai kapan bola basket Indonesia hanya dievaluasi berdasarkan asumsi?

Didik Haryadi

Leave a Reply