Perkembangan Positif, Walau Kalah Telak dari Korea Selatan di Jones Cup 2019

Tim basket putra Indonesia mengalami kekalahan yang cukup telak dari Korea Selatan, yang berakhir dengan skor 117-55. Tingginya efektivitas tembakan (eFG%) tim Korea Selatan, membuat Indonesia kesulitan untuk mengejar ketertinggalan. Bahkan, Korea Selatan memiliki angka eFG% yang mencapai 86% pada kuarter tiga, sedangkan Indonesia hanya sebesar 28%.

Analisis Peta Tembakan, Efisiensi, dan Empat Faktor

Berdasarkan peta tembakan (short chart), menunjukkan perubahan kontribusi angka dibandingkan dengan dua pertandingan sebelumnya. Pada pertandingan ini, kontribusi angka Indonesia lebih banyak pada area dalam dan perimeter. Akurasi pada area dalam tercatat cukup tinggi, yaitu 64% dari 11 upaya tembakan (meningkat 44% dibandingkan pertandingan sebelumnya). Selain itu, dari area tiga angka (3P) terdapat peningkatan efektivitas tembakan sebesar 8% dibandingkan pertandingan sebelumnya.

Produktivitas tembakan 3P di area sudut (corner) juga tampak meningkat, seiring dengan peningkatan kesempatan menembak untuk Indra Muhammad di area sudut. Indra berhasil memasukkan 2 dari 3 upaya tembakan tiga angka (0.67 3P%) dan ditambah satu tembakan yang disumbangkan oleh Muhammad Wicaksono.

Salah satu catatan menarik pada laga ini adalah Kaleb Gemilang, yang merupakan salah satu kontributor utama tembakan 3P dengan akurasi 100% pada dua pertandingan sebelumnya, hanya mendapatkan 1 kesempatan menembak 3P pada saat menghadapi Korea Selatan. Selain itu, Kaleb juga melakukan 2 tembakan perimeter di lokasi yang bukan menjadi andalan utamanya. Pada laga ini, Kaleb mengalami penurunan drastis efisiensi dan efektivitas karena hanya memasukkan 1 dari 5 upaya tembakan.

Peta tembakan pertandingan antara tim basket putra Indonesia dengan Korea Selatan di Jones Cup 2019.

Pada dua pertandingan sebelumnya, tim Indonesia dapat mengantisipasi serangan di area tiga angka dengan cukup baik, yaitu rata-rata kemasukkan 25% dari 59 tembakan tiga angka. Akan tetapi, pada pertandingan ini tim Indonesia tidak dapat membendung tembakan tiga angka tim Korea Selatan yang berhasil memasukkan 57% dari 37 tembakan tiga angka, yang senilai 63 angka.

Berdasarkan statistik efisiensi, tim Indonesa tampak memiliki jumlah penguasaan yang lebih banyak. Namun, tim Korea Selatan dapat menghasilkan 1.6 angka pada setiap penguasaan, sedangkan tim Indonesia hanya menghasilkan 0.7 angka pada setiap penguasaan.

Pada laga ini, tim Indonesia mengalami peningkatan efektivitas tembakan (eFG%) sebesar 9%, bila dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya. Meningkatnya angka eFG% disebabkan oleh peningkatan efektivitas pada area tembakan dua angka maupun area tembakan tiga angka. Selain itu, juga terdapat peningkatan Play% sebesar 4%, yang berarti bahwa tim Indonesia lebih baik dalam memanfaatkan sejumlah kesempatan untuk mencetak angka.

Walau terjadi peningkatan efektivitas, namun tim Indonesia memiliki masalah pada tingginya TO% yang sebesar 24% dan rendahnya DReb% yang sebesar 56%. Hal tersebut menyebabkan peningkatan jumlah kesempatan menembak untuk tim Korea Selatan yang lebih banyak dan berhasil dimanfaatkan dengan efektivitas yang sangat tinggi.

Statistik tim basket Indonesia ketika berhadapan dengan Korea Selatan di Jones Cup 2019.

Analisis Individual: Juan, Indra, dan Wicaksono Produktif di Area 3P

Berdasarkan statistik individual, Mei Joni (6 Pts, 4 Reb, 3 Ast) masih cukup konsisten dengan efisiensi serangan yang di atas rata-rata, walau terjadi penurunan efektivitas dan produktivitas tembakan yang cukup bermakna. Peningkatan performa dalam hal efektivitas dan produktivitas tembakan juga ditunjukkan oleh Juan Kokodiputra (11 Pts, 2 Reb, 1 Ast), Muhammad Wicaksono (8 Pts, 2 Reb, 2 Ast), Indra Muhammad (8 Pts, 2 Reb, 2 Ast), dan Tri Hartanto (10 Pts, 4 Reb, 1 Ast). Di antara 10 pemain yang bermain di atas 10 menit, terdapat 4 pemain yang memiliki efektivitas dan efisiensi yang jauh di bawah rata-rata tim.

Di antara dua fasilitator utama, hanya Widyanta Teja (5 Pts, 1 Reb, 4 Ast) yang masih memiliki efektivitas tembakan dan efisiensi serangan yang di atas rata-rata, dengan angka Ast/TO yang sebesar 1.33. Sedangkan Arif Hidayat (1 Pts, 1 Reb, 1 Ast) mengalami penurunan drastis efektivitas dan efisiensi, serta mengalami penurunan angka Ast/To yang sebesar 0.33. Dua fasilitator utama tim Indonesia terkesan masih belum cukup produktif sesuai dengan perannya.

Kesimpulan

Beberapa masalah tim Indonesia pada laga ini masih sama seperti pertandingan sebelumnya, yaitu masalah koordinasi pertahanan yang berpengaruh pada rendahnya DReb%, dan tingginya jumlah TOV, dimana kedua hal tersebut berdampak pada melonjaknya kesempatan mencetak angka untuk Korea Selatan. Selain itu, kelemahan pertahanan pada area luar menjadi masalah utama pada laga ini, yang menghasilkan 63 angka untuk Korea Selatan.

Dalam hal serangan, perlu diupayakan peluang menembak tiga angka yang lebih banyak di area yang spesifik untuk para pemain dengan akurasi yang tinggi. Pada laga ini, Mei Joni dan Kaleb Ramot tercatat memiliki upaya tembakan yang lebih rendah dibandingkan dengan laga-laga sebelumnya. Dengan jumlah para penembak tiga angka yang cukup banyak, seharusnya tim Indonesia lebih banyak menciptakan peluang menembak untuk mereka.

Di samping hasil akhir dan masalah – masalah tersebut, ternyata beberapa atlet tim Indonesia tercatat mengalami peningkatan efektivitas dan produktivitas tembakan. Dengan menggunakan analisis statistik, kita dapat melihat dan mengevaluasi proses perkembangan suatu pemain di dalam suatu kompetisi, daripada sekedar melihat skor akhir atau menang dan kalah.

Didik Haryadi

Leave a Reply