Anti Klimaks Dini, Tim Indonesia Tersalip Jordan

Tim basket putra Indonesia ditumbangkan dengan skor 51-79 oleh Jordan di pertandingan kedua Jones Cup 2019. Indonesia yang berhasil meraih keunggulan 21-12 pada kuarter pertama, mulai kehilangan momentum pada kuarter kedua yang berakhir dengan skor 31-30. Jordan semakin jauh meninggalkan Indonesia sejak kuarter ketiga sampai laga berakhir dengan skor 51-79. Efektivitas tembakan yang rendah dan selisih jumlah TOV yang sangat besar merupakan faktor-faktor utama penyebab kekalahan tim Indonesia.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa efisiensi serangan tim Indonesia (66.41) sangat jauh di bawah Jordan (106.18). Kegagalan koordinasi serangan dalam upaya membebaskan para penembak utama, yang sebagian besar berakhir sebagai permainan individual, menyebabkan rendahnya efektivitas tembakan yang hanya sebesar 37%. Selain itu, tim Indonesia melakukan turnover (18 TOV) dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak dari tim lawan (9 TOV). Rendahnya efisiensi serangan tim Indonesia disebabkan secara langsung dari masalah efektivitas tembakan dan turnover tersebut.

Muhammad Arighi (1/7 FG) dan Yanuar Priasmoro (1/2 FG) kembali menjadi beban pada rendahnya efisiensi serangan tim Indonesia. Mereka berdua lebih banyak berkontribusi untuk lawan, dengan menyumbangkan 6 TOV dan 8 pelanggaran yang beberapa di antaranya berakhir sebagai lemparan gratis, daripada berkontribusi untuk tim sendiri. Selain mereka berdua, Muhammad Wicaksono (1/8 FG) dan bahkan Chester Giles (3/11 FG) juga turut menjadi beban pada efisiensi serangan oleh karena efektivitas tembakan yang sangat rendah.

Dari peta tembakan terlihat bahwa serangan area 3P yang menjadi andalan utama tim Indonesia, memiliki efektivitas yang rendah. Kaleb Ramot Gemilang (2/2 3P), Mei Joni (2/5 3P), dan Arif Hidayat (2/5 3P) masih menjadi kontributor utama di area tersebut dengan efektivitas yang tinggi. Sementara Muhammad Wicaksono (1/7 3P), Muhammar Arighi (0/4 3P) dan Indra Muhammad (0/3 3P) menjadi beban pada serangan jarak jauh tim Indonesia.

Masalah lain yang terlihat pada laga ini adalah kurangnya koordinasi pertahanan yang berdampak pada rendahnya angka DReb%. Tim Indonesia memiliki angka DReb% yang hanya sebesar 61% dan berakibat pada tingginya jumlah OReb di tim lawan (16 OReb). Selain itu, masalah koordinasi pertahanan juga berdampak pada tingginya produktivitas tim lawan di sekitar area 5 kaki (22/36 FG).

Pada laga ini, tim Jordan memiliki jumlah upaya tembakan yang jauh lebih besar daripada tim Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya angka TOV dan rendahnya angka DReb di tim Indonesia

Didik Haryadi

Leave a Reply