Analisis Statistik Kompetisi Basket Pra PON 2019

Pada saat menganalisis data hasil kompetisi cabang olahraga basket di Pra PON ini, penulis menerima pernyataan-pernyataan menarik dari kawan-kawan, yang salah satunya adalah: “Kanggo opo ribet-ribet bikin data statistik. Lha wong sing menentukan kemenangan iki skor akhir. Ora turnover, rebound, dan lainnya.”

Pendapat tersebut tidaklah keliru bahwa menang dan kalahnya suatu tim tergantung dari jumlah skor akhir. Namun, perlu dipahami bahwa tujuan dari analisis statistik suatu pertandingan adalah untuk mengetahui faktor-faktor penting, dari sekian banyak hal yang terjadi pada suatu pertandingan, yang dapat mempengaruhi skor akhir. Secara singkat, tujuannya adalah untuk mengetahui mengapa bisa sampai terjadi skor akhir tersebut.

Mengetahui faktor-faktor yang menentukan kemenangan atau kekalahan suatu tim secara spesifik, merupakan hal yang sangat penting untuk membantu proses evaluasi agar tepat sasaran dan menjadi masukan untuk perencanaan program persiapan akan datang. Sebaliknya apabila tidak memiliki informasi yang objektif dari hasil analisis statistik, maka hal yang umum terjadi adalah proses evaluasi secara subjektif berdasarkan penilaian siapa yang mengevaluasi, dan berakhir dengan program persiapan yang tidak spesifik.

Hasil analisis empat-faktor kemenangan (eFG%, TO%, OR%, dan FT Rate) di kelompok putra merupakan salah satu contoh mengenai pentingnya analisis statistik. Bila kita menganggap bahwa menang dan kalah hanya dilihat dari skor akhir, maka dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berperan adalah efektivitas tembakan (eFG%). Benarkah demikian?

Kenyataan dari hasil analisis menunjukkan bahwa efektivitas tembakan bukanlah faktor terpenting yang menentukan kesuksesan di kelompok putra, melainkan faktor turnover (TO%). Jumlah pertandingan yang dimenangkan dengan keunggulan faktor TO% adalah 32 dari 39 pertandingan atau sebesar 82%. Sementara jumlah pertandingan yang dimenangkan dengan keunggulan faktor-faktor lainnya adalah sebesar 29 pertandingan (74%) untuk faktor eFG%, 25 pertandingan (64%) untuk faktor FT Rate, dan 23 pertandingan (59%) untuk faktor OR%.

Sementara hasil analisis empat-faktor kemenangan di kelompok putri menunjukkan hasil yang berbeda, dimana keunggulan faktor eFG% dan OR% memiliki porsi yang lebih besar. Jumlah pertandingan yang dimenangkan dengan keunggulan dua faktor tersebut adalah 21 dari 26 pertandingan atau sebesar 80%. Sedangkan jumlah pertandingan yang dimenangkan dengan keunggulan faktor-faktor lainnya adalah sebesar 17 pertandingan (65%) untuk faktor TO% dan 10 pertandingan (38%) untuk faktor FT Rate.

Apabila TO% menjadi faktor dengan distribusi kemenangan yang paling besar dalam suatu kompetisi, maka artinya adalah terdapat kesenjangan fundamental yang sangat bermakna di antara peserta kompetisi tersebut. Dengan demikian, pengembangan teknik dasar dan kemampuan fisik memiliki prioritas yang lebih besar pada proses persiapan akan datang.

Apabila OR% menjadi faktor dengan distribusi kemenangan yang paling besar dalam suatu kompetisi, maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa terdapat masalah serius dalam hal koordinasi pertahanan, terutama dalam hal defensive rebound. Koordinasi pertahanan harus menjadi salah satu prioritas utama yang perlu dievaluasi, di samping fundamental.

Berdasarkan hasil analisis efisiensi serangan di kelompok putra menunjukkan betapa rendahnya rata-rata efisiensi serangan di kompetisi ini. Hanya terdapat 2 dari 17 peserta (11.8%) dengan nilai efisiensi serangan di atas 90, yaitu Jakarta (108.3) dan Jawa Tengah (90.4). Terdapat 5 peserta (29.4%) dengan nilai efisiensi serangan sebesar 80, yaitu Bali (85.4), Bangka Belitung (80.9), Banten (83.1), Sulawesi Selatan (82.0), dan Sulawesi Utara (82.4). Sedangkan 10 peserta lainnya (58.8%) memiliki nilai efisiensi serangan yang sangat rendah atau kurang dari 80, yaitu Aceh (61.97), Kalimantan Barat (75.0), Kalimantan Selatan (71.4), Kalimantan Tengah (37.8), Lampung (49.3), Nusa Tenggara Barat (75.4), Nusa Tenggara Timur (51.9), Papua Barat (60.4), Sumatra Selatan (52.6), dan Yogyakarta (71.8).

Demikian pula dengan kelompok putri yang juga memiliki rata-rata efisiensi serangan yang sangat rendah. Hanya terdapat 2 dari 13 peserta (15.4%) dengan nilai efisiensi serangan di atas 90, yaitu Jawa Barat (108.0) dan Jawa Timur (111.7). Terdapat 1 peserta (7.7%) dengan nilai efisiensi serangan sebesar 80, yaitu Bali (89.6). Sedangkan 10 peserta lainnya (76.9%) memiliki nilai efisiensi serangan yang sangat rendah atau kurang dari 80, yaitu Bangka Belitung (51.1), Banten (60.2), Jambi (70.5), Kalimantan Barat (61.6), Kalimantan Timur (50.6), Lampung (67.3), Papua Barat (37.9), Sulawesi Selatan (62.3), Sumatra Selatan (55.3) dan Yogyakarta (51.2).

Rendahnya rata-rata efisiensi serangan dengan kesenjangan yang sangat besar, merupakan informasi tambahan yang menunjukkan bahwa masalah fundamental, masalah kemampuan fisik, dan masalah koordinasi pertahanan (termasuk koordinasi rebound) harus diprioritaskan sebagai bahan evaluasi pada perencanaan akan datang, dibandingkan hal-hal lain (misalnya: pengembangan strategi permainan dan pertandingan-pertandingan uji coba). Selain itu, pengembangan di kelompok putri harus mendapatkan perhatian yang lebih baik karena memiliki kesenjangan yang lebih besar dibandingkan kelompok putra.

Didik Haryadi

Basketball Analyst

Leave a Reply