Analisis Kemenangan Pembuka Indonesia di Jones Cup 2019 Membuat Saya Semakin Bingung,”Seberapa Besar Pengaruh Tinggi Badan Terhadap Kesuksesan Tim?”

Tim basket putra Indonesia berhasil mengawali William Jones Cup 2019 dengan kemenangan atas Kanada, yang berakhir dengan skor 80 – 70. Keunggulan efisiensi serangan, efektivitas tembakan, dan offensive rebound merupakan faktor – faktor pendukung kemenangan timnas basket Indonesia. Dari hasil pertandingan ini, timbul pertanyaan di benak penulis, “Benarkah tinggi badan lebih penting ataukah kemampuan fisik dan teknik untuk melakukan tembakan jarak jauh, pertahanan perimeter, dan box out untuk rebound adalah hal yang lebih penting? Kalau memang tinggi badan adalah hal yang penting, maka seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tim?”

Berdasarkan peta tembakan (shot chart), terlihat bahwa kontribusi terbesar tim Indonesia berasal dari tembakan tiga angka di wilayah atas dan sayap, yang berjumlah 12 dari 27 upaya tembakan (0.46 3P%). Walau demikian, tembakan tiga angka di wilayah sudut masih menjadi masalah besar, dimana terdapat 8 upaya tembakan tanpa menghasilkan angka. Sedangkan serangan Kanada hanya memiliki persentase keberhasilan tembakan tiga angka sebesar 25.7% dari 35 upaya tembakan.

Statistik menunjukkan bahwa Indonesia Indonesia memiliki efisiensi serangan yang lebih baik, dimana dapat menghasilkan 1 angka pada setiap penguasaan, dibandingkan dengan Kanada yang hanya 0.9 angka pada setiap penguasaan. Pada pertandingan ini, Indonesia dan Kanada memiliki jumlah kesempatan mencetak angka (Play) yang sama besar, namun Indonesia dapat memanfaatkan 34 kesempatan untuk menjadi angka, sedangkan Kanada hanya dapat memanfaatkan 30 kesempatan untuk menjadi angka.

Jika ditinjau dari empat faktor kemenangan, Indonesia berhasil mengungguli efektivitas tembakan dengan selisih 9% dan persentase offensive rebound dengan selisih 3%. Selain efektivitas, kegigihan untuk menguasai defensive rebound yang sebanyak 38 DReb (0.78 DReb%), merupakan salah satu kunci keberhasilan tim Indonesia dalam upaya menggungguli faktor OR%.

Statistik tim basket Indonesia ketika berhadapan dengan Kanada di Jones Cup 2019.

Berdasarkan statistik individual, Kaleb Ramot Gemilang (18 Pts, 5 Reb, 3 Ast) memiliki catatan yang sangat mengesankan dengan efisiensi dan efektivitas yang sangat tinggi. Dengan persentase penguasaan yang hanya sebesar 17%, atlet ini adalah kontributor angka terbesar dengan catatan Off Rtg sebesar 156.5, eFG% sebesar 93%, dan TS% sebesar 93%.

Selain Kaleb, tim Indonesia memilki dua atlet penembak yang produktif dalam hal tembakan maupun rebound, yaitu Muhammad Hardian Wicaksono (12 Pts, 8 Reb, 1 Ast) dan Mei Joni (11 Pts, 6 Reb, 1 Ast). Wicaksono memiliki eFG% sebesar 67% dan TS% sebesar 56%, sedangkan Mei Joni memiliki eFG% sebesar 69% dan TS% sebesar 69%. Selain itu, mereka berdua berkontribusi sebesar 30% dari total rebound tim Indonesia. Dua atlet ini terkesan telah memenuhi peran 3-R dengan sangat baik.

Di antara para pembawa bola, Arif Hidayat (11 Pts, 2 Reb, 4 Ast) memiliki catatan efektivitas dan efisiensi tembakan yang tinggi, namun memiliki angka Ast/TO yang rendah (1.3). Sedangkan Widyanta Putra Teja (2 Pts, 3 Reb, 8 Ast) memiliki efektivitas dan efisiensi tembakan yang rendah, namun memiliki angka Ast/TO yang sangat tinggi (8) dan memiliki efisiensi serangan yang tertinggi kedua (139.11) setelah Kaleb Ramot Gemilang. Arif Hidayat telah memenuhi kriteria SBH dengan cukup baik, namun masih perlu perbaikan dalam hal Ast/TO. Sedangkan Widyanta Teja masih belum menunjukkan gambaran OBH yang efektif dalam mencetak angka, namun sudah berkontribusi dengan sangat baik sebagai fasilitator utama.

Di antara 10 pemain yang tampil lebih dari 10 menit, terdapat tiga pemain yang memiliki angka Off Rating dan Floor% yang masih jauh di bawah rata – rata. Selain itu, dari 10 pemain tersebut terdapat empat pemain dengan efektivitas tembakan yang sangat rendah, dengan rata – rata sebesar 23% dari total 22 upaya tembakan (32.8% dari total tembakan yang dilakukan tim Indonesia). Berdasarkan data tersebut, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut mengenai pemilihan eksekutor tembakan, cara, dan lokasi eksekusi tembakan.

Berdasarkan hasil analisa statistik ini menunjukkan bahwa kemenangan Indonesia atas Kanada disebabkan oleh keunggulan efektivitas tembakan tiga angka. Selain itu, Indonesia juga lebih unggul dalam hal rebound oleh karena meratanya kontribusi rebound di antara para pemain lokal dengan rata – rata enam kontributor utama (pemain lokal) yang hanya 186 cm (189 cm bila ditambah Chester Giles), dibandingkan dengan tinggi rata – rata enam pemain utama Kanada yang mencapai 198 cm.

Apakah tinggi badan lebih penting? Kalau memang penting, maka seberapa besarkah pengaruhnya, bila melihat fakta bahwa tim dengan rata – rata kontributor utama yang lebih rendah sebesar 9 cm dapat unggul dalam hal rebound dan bahkan memenangkan pertandingan?

Didik Haryadi

Leave a Reply