Analisis Atlet Tim Basket Putra Indonesia di Jones Cup 2019

Pelatih bola basket memiliki beberapa cara untuk melakukan analisis dalam upaya mengembangkan sebuah tim, yang salah satunya adalah dengan menggunakan analisis peta tembakan (shot chart). Peta tembakan adalah gambar pembagian lokasi tembakan yang dilakukan oleh para pemain dalam suatu pertandingan. Pemetaan lokasi tembakan dapat berdasarkan sistem zona, atau berdasarkan jarak tanpa menggunakan sistem zona, atau penggabungan keduanya. Tujuan analisis peta tembakan adalah untuk mengetahui informasi efektivitas tembakan para pemain, efektivitas eksekusi strategi serangan, dan efektivitas pertahanan. Informasi-informasi tersebut sangatlah bermanfaat untuk menentukan strategi permainan dalam suatu pertandingan atau kompetisi, maupun untuk perencanaan pengembangan para pemain dalam jangka waktu panjang.

Pada artikel ini, penulis akan membahas analisis statistik dan peta tembakan para atlet tim nasional basket Indonesia di William Jones Cup 2019. Peta tembakan yang digunakan pada artikel ini adalah penggabungan sistem zona dengan jarak. Selain itu, para atlet akan diberi penilaian performa rata – rata di Jones Cup 2019 dengan skala A-E berdasarkan pertimbangan efisiensi serangan dan empat faktor kemenangan, tanpa memperhitungkan efisiensi pertahanan.

Tabel empat faktor atet Indonesia di Jones Cup 2019.

Kaleb Ramot Gemilang [3R-Fasilitator] | Grade: A

MIN: 24 | GP: 8 | PTS: 11.6 | REB: 4.4 | AST: 2.5 | TOV: 2.9 | eFG%: 57% | TS%: 60% |Off Rtg: 90.4 | USG%: 29%

Tubuh yang di bawah tinggi rata-rata tidak menjadi alasan bagi Kaleb Gemilang untuk menjadi kontributor utama tim Indonesia di Jones Cup 2019. Kaleb menjadi yang teratas dalam hal rata-rata angka dan rebound, serta menjadi pencetak assist terbanyak kedua di tim Indonesia. Selain itu, Kaleb berada di posisi tiga besar dalam hal efisiensi serangan.

Pada peta tembakan menunjukkan bahwa Kaleb memiliki efektivitas 3P di sayap kiri (70%) dan sayap kanan (67%) yang tertinggi di tim Indonesia, dengan efektivitas 3P di seluruh area sayap dan atas yang sebesar 64.7%. Namun, kontribusi angka terbesar Kaleb berasal dari area 2P dan bahkan menjadi kontributor angka terbesar di lima zona 2P, termasuk area dalam yang seharusnya dikuasai oleh pemain yang berperan sebagai SPP.

Juan Laurent Kokodiputra [3D/3R] | Grade: A+

MIN: 21 | GP: 8 | PTS: 8.6 | REB: 2 | AST: 0.8 | TOV: 0.6 | eFG%: 69% | TS%: 67% |Off Rtg: 105.58 | USG%: 18%

Juan Kokodiputra adalah pemain dengan rata-rata efisiensi serangan yang tertinggi di tim Indonesia oleh karena memiliki rata-rata eFG% (69%) yang juga tertinggi dan memiliki TO% (11%) yang paling rendah di tim Indonesia. Walau demikian, Juan memiliki angka USG% yang paling rendah kedua di antara para pemain yang tampil di atas 10 menit. Dengan demikian, perlu diuji coba lebih lanjut untuk meningkatkan USG% pada pemain ini untuk mengetahui apakah dapat mempertahankan kekonsistenan eFG% dan TO%, seiring dengan peningkatan USG%.

Pada peta tembakan menunjukkan bahwa Juan adalah kontributor terbesar 3P di area sayap untuk tim Indonesia, dimana dia berhasil memasukkan 12 dari 23 upaya tembakan 3P di area sayap (52.2%), terutama sayap kanan. Secara keseluruhan, Juan memiliki efektivitas 3P yang sebesar 45.9%.

Mei Joni [3D/3R] | Grade: A

MIN: 20 | GP: 8 | PTS: 7.9 | REB: 3.4 | AST: 1.9 | TOV: 1.8 | eFG%: 68% | TS%: 70% |Off Rtg: 89.98 | USG%: 20%

Mei Joni adalah pemain yang berkontribusi di seluruh area 3P dengan rata-rata efektivitas 3P (47.1%) yang tertinggi di tim Indonesia dan merupakan kontributor 3P terbesar di dua sisi area sudut dan area atas. Bersama dengan Juan Kokodiputra, mereka berdua adalah pemain dengan eFG% dan TS% yang teratas. Selain itu Mei Joni adalah kontributor rebound terbesar kedua setelah Kaleb Gemilang.

Muhammad Hardian Wicaksono [3R] | Grade: B

MIN: 19 | GP: 8 | PTS: 5.6 | REB: 3.1 | AST: 1.4 | TOV: 1.3 | eFG%: 40% | TS%: 41% |Off Rtg: 70.17 | USG%: 23%

Masalah utama Muhammad Wicaksono adalah konsistensi. Terdapat empat pertandingan dimana Wicaksono tampil produktif dan mencatatkan 7.75 Pts dan 3.75 Reb, dengan eFG% sebesar 64% dan TS% sebesar 57%. Sedangkan di empat pertandingan lainnya, Wicaksono mencetak 3 Pts, 2.5 Reb, dengan eFG% sebesar 17.3% dan TS% sebesar 21.3%. Menariknya adalah di empat pertandingan dengan produktivitas angka yang rendah tersebut, Wicaksono dapat berperan sebagai fasilitator dengan angka Ast/To sebesar 1.75 dan tertinggi kedua setelah Widyanta Teja.

Widyanta Putra Teja [OBH-Fasilitator] | Grade: B+

MIN: 18 | GP: 8 | PTS: 2.9 | REB: 2 | AST: 4.4 | TOV: 1.6 | eFG%: 35% | TS%: 37% |Off Rtg: 93.97 | USG%: 17%

Widyanta Putra Teja adalah fasilitator terbaik di tim Indonesia, dengan angka Ast/To (2.75) yang tertinggi dan memiliki efisiensi serangan yang tertinggi kedua di tim Indonesia. Salah satu laga yang menyebabkan melonjaknya efisiensi serangan Widi adalah pertandingan melawan tim Republik China II, dimana Widyanta yang tampil selama 19 menit berhasil mencetak 7 Ast tanpa TOV. Pada laga tersebut, Widyanta memiliki angka Off Rtg sebesar 182.38, yang merupakan angka Off Rtg tertinggi yang pernah dicetak oleh atlet Indonesia pada suatu laga di William Jones Cup 2019.

Sampai pada pertandingan ketujuh, Widyanta memiliki eFG% sebesar 43.8% dan TS% sebesar 45.4%. Pada pertandingan kedelapan, Widyanta melakukan 5 tembakan 3P yang bukan menjadi keahliannya dan terbukti tanpa hasil, sehingga menurunkan angka eFG% dan TS% dengan cukup drastis. Selain itu, angka USG% yang paling rendah di tim Indonesia menjadi salah satu faktor mengapa Widyanta tidak memiliki banyak kesempatan untuk meningkatkan produktivitasnya.

Arif Hidayat [SBH] | Grade: B

MIN: 16 | GP: 8 | PTS: 5.3 | REB: 0.9 | AST: 1.9 | TOV: 2.1 | eFG%: 49% | TS%: 50% |Off Rtg: 67.36 | USG%: 25%

Arif Hidayat (adalah satu – satunya SBH di tim Indonesia, dengan akurasi 3P sebesar 39.4%. Berdasarkan peta tembakan, menunjukkan bahwa Arif merupakan penembak 3P terbaik kedua di sayap kiri, setelah Kaleb. Selain dari hal yang spesifik tersebut, Arif tidak memiliki kontribusi lainnya yang cukup bermakna.

Atlet ini memiliki angka efisiensi serangan yang rendah dan di bawah standar yang dapat mendukung kesuksesan tim. Selain itu, atlet ini memiliki angka Ast/TO (0.9) yang rendah dan memiliki angka TO% (32%) yang tertinggi kedua setelah Wendha Wijaya, sehingga masih belum memenuhi syarat sebagai fasilitator. Sebagai penembak jarak jauh, Arif memiliki rata – rata efektivitas tembakan yang hanya sebesar 49% dan produktivitas tembakan sebesar 50%.

Tri Hartanto [SPP] | Grade: C+

MIN: 16 | GP: 8 | PTS: 4.4 | REB: 2.5 | AST: 0.8| TOV: 0.6 | eFG%: 38% | TS%: 45% |Off Rtg: 88.11 | USG%: 18%

Tri Hartanto tidak memiliki kontribusi pertahanan yang bermakna, serta memiliki efektivitas dan produktivitas tembakan yang sangat rendah, dimana seharusnya pemain SPP memilili angka efektivitas dan produktivitas yang di atas rata-rata tim. Pada peta tembakan terlihat bahwa Tri Hartanto hanya memiliki efektivitas yang tinggi di area lima kaki dan memiliki efektivitas yang relatif rendah di luar area tersebut.

Yanuar Dwi Priasmoro [?] | Grade: E

MIN: 14 | GP: 8 | PTS: 2 | REB: 1 | AST: 1.9 | TOV: 1.1 | eFG%: 20% | TS%: 22% |Off Rtg: 47.12 | USG%: 22%

Yanuar Priasmoro adalah salah satu pemain dengan efektivitas tembakan dan efisiensi serangan yang paling rendah di tim Indonesia. Tidak terdapat kontribusi yang bermakna dan bahkan menjadi salah satu beban untuk tim Indonesia di Jones Cup 2019.

Indra Muhammad [3D] | Grade: A

MIN: 13 | GP: 7 | PTS: 5.6 | REB: 2.1 | AST: 1 | TOV: 1.1 | eFG%: 64% | TS%: 64% |Off Rtg: 81.45 | USG%: 22%

Indra Muhammad yang hanya tampil dengan rata-rata waktu bermain di urutan empat paling sedikit, ternyata berhasil menjadi salah satu dari empat kontributor utama di tim Indonesia, serta memiliki angka eFG% dan TS% yang terbesar ketiga setelah Mei Joni dan Juan. Bahkan, pada peta tembakan menunjukkan bahwa Indra memiliki efektivitas yang lebih baik dari Mei Joni di area sudut kiri dan lebih baik dari Juan di area sayap kanan. Walau demikian, jumlah waktu bermain yang lebih sedikit menjadi salah satu penyebab upaya tembakan 3P yang lebih rendah, sehingga Indra masih belum dapat disebut sebagai kontributor terbaik di dua area tersebut walau memiliki persentase keberhasilan yang lebih tinggi.

Muhammad Arighi Noor [Prospek SBH] | Grade: E

MIN: 11 | GP: 8 | PTS: 3.1 | REB: 1.6 | AST: 0.9 | TOV: 1.6 | eFG%: 34% | TS%: 34% |Off Rtg: 40.07 | USG%: 30%

Muhammad Arighi adalah salah satu pemain dengan efisiensi serangan dan efektivitas tembakan yang paling rendah, namun memiliki angka USG% yang tertinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa atlet muda ini diberikan banyak kebebasan untuk beruji coba di Jones Cup 2019, melebihi para pemain seniornya, walau secara fundamental dan kemampuan fisik masih belum memenuhi standar.

Kelvin Sanjaya [SPP] | Grade: D

MIN: 8 | GP: 8 | PTS: 2.3 | REB: 1.6 | TOV: 0.6 | eFG%: 33% | TS%: 34% |Off Rtg: 55.01 | USG%: 26%

Kelvin Sanjaya adalah pemain dengan angka OR% dan BLK% yang tertinggi setelah CJ Giles, dan satu-satunya di tim Indonesia yang sebenarnya memenuhi syarat untuk disebut sebagai SPP. Rendahnya efektivitas tembakan, walau memiliki area tembakan yang terkonsentrasi di wilayah yang kurang dari 16 kaki menunjukkan bahwa atlet ini belum siap untuk berlaga di kompetisi setingkat Jones Cup.

Wendha Wijaya [?] | Grade: C

MIN: 5 | GP: 7 | PTS: 1 | REB: 0.6 | AST: 0.9 | TOV: 1.3 | eFG%: 50% | TS%: 50% |Off Rtg: 27.78 | USG%: 22%

Wendha Wijaya merupakan pemain dengan angka TO% (50%) yang tertinggi dan memiliki efisiensi serangan yang paling rendah karena terdapat lima laga dengan rata-rata waktu bermain sekitar tiga menit, dimana Wendha hanya berkontribusi total 5 TOV, 1 Ast, 1 Reb, dan 1 FGA tanpa menghasilkan angka pada sepanjang lima laga tersebut. Namun, ketika mendapat kesempatan dengan rata – rata 12 menit pada laga melawan tim Japan dan Philippines, Wendha memiliki efisiensi serangan sebesar 84.77 dan memiliki eFG% sebesar 56.5%.

Kesimpulan

Hasil uji coba Jones Cup 2019 menunjukkan bahwa hanya terdapat empat pemain bertipe 3R/3D yang sudah memenuhi standar untuk mendukung kesuksesan tim Indonesia di kompetisi internasional. Selain itu, terdapat tiga pemain yang kurang mendukung Kesuksesan, tiga pemain yang tidak mendukung kesuksesan, dan dua pemain yang menjadi beban. Tim Indonesia masih membutuhkan para pemain yang bertipe OBH, SBH, SPP atau 3PP yang memenuhi standar efektivitas dan produktivitas, agar dapat mendukung pencapaian prestasi yang lebih baik lagi.

Didik Haryadi

Leave a Reply